Perilaku adaptif adalah keefektifan atau tingkat kemampuan seseorang dalam memenuhi norma kebebasan pribadi yang sesuai dengan usia dan kelompok budayanya. Perilaku adaptif merupakan kematangan diri dan sosial sesuai dengan usia dan budaya kelompoknya
Para ahli mendeskripsikan sebagai berikut :
Prilaku adaptif berfokus pada perilaku sehari-hari, tuntutan lingkungan yang bersifat kongkrit, intelegensi berfokus pada proses terjadinya dan tuntutan akademik
Asesmen perilaku adaptif melibatkan perilaku umum, khusus dan sehari-hari sedangkan intelegensi skala pengukur
Problem yang terjadi pada perilaku adaptif berakibat / berkaitan erat dengan terjadinya defisit intelegensi
Perjuangan untuk bertahan hidup merupakan landasan pokok bagi anak dalam lingkungan kehidupannya dan merupakan kebutuhan mereka untuk memelihara perjuangan diri sehingga mempunyai pengaruh yang kuat dalam mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan perilaku secara fisik dan membentuk perkembangan psikologis dirinya.
Makna bermain dalam proses bimbingan dan pembelajaran merupakan fungsi dari ego yang mencoba memadukan tubuh dan proses sosial dalam diri seseorang.
Bermain secara umum diartikan sebagai antithesis atau lawan yang tepat dari kerja, karena sifatnya menyenangkan, bebas dari paksaan, perasaan hati atau tidak ada tekanan dan bebas dari sifat yang tidak masuk akal.
Perilaku anak saat melakukan kegiatan bermain pada umumnya tidak mengharapkan hadiah atau ganjaran dari luar dirinya, mereka akan terus bermain tanpa menghiraukan orang lain yang ada sekitarnya. Hal ini disebabkan secara prinsip telah memberikan rangsangan dan mendominasi kegiatan seseorang terhadap objek mainanya.
Dalam kegiatan bermain yang dianggap penting bagi seseorang mempertahankan suatu objek, bukan mendapatkan informasi baru tentang objek. Jadi motivasi dan objek secara nyata dapat menjadikan permainan berubah sesuai dengan situasi anak. Bermain tidak bersifat instrumen atau tidak mempunyai arah tertentu sewaktu dilakukan oleh sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain, tidak mempunyai tujuan tertentu, serta tidak ada orientasi yang harus dilakukan. Komponen-komponen tersebut secara tetap ada pada perilaku seorang anak yang sedang tekun melakukan permainan yang mempunyai karakteristik khusus aturan tertentu.
Fungsi bermain serta implikasi dalam permainan yang bersifat terrapeutik sangat erat hubungannya dengan faktor-faktor :
Faktor Biological
- Bermain merupakan wacana bagi seorang anak untuk mempelajari keterampilan-keterampilan dasar
- Seorang anak melalui bermain dapat menyalurkan seluruh energi serta mendapatkan relaksasi
- Bermain memberikan kemungkinan terhadap anak untuk melakukan stimulasi secara kinestesis
Faktor Intra Personal
- Bermain dapat mempengaruhi gairah diri
- Bermain dapat memungkinkan seorang anak memperoleh kemampuan untuk menguasai situasi tertentu
- Bermain menjadi diri seorang anak untuk mampu mengatasi konflik-konflik dirinya
Faktor Inter Personal
- Bermain merupakan salah satu wahana yang paling penting bagi seorang anak untuk menemukan jati dirinya yang ingin lepas dari pengasuhnya
- Bermain membantu seorang anak untuk lebih banyak mempelajari keterampilan-keterampilan sosial
Faktor SocioCultural
- Fungsi bermain sebagai media belajar anak dalam mempelajari peranan budaya bagi kepentingan diri mereka maupun orang lain
- Permainan yang dilakukan anak berkaitan dengan budaya dan seringkali memiliki sejarah tertentu yang bersifat khusus serta banyak mengandung nilai-nilai budaya masyarakat.
Jadi faktor terrapeutik dalam permainan berisikan sejumlah elemen-elemen tertentu yang berbeda-beda untuk setiap kegiatannya serta ditentukan oleh pengaruh-pengaruh khusus yang ada pada anak.
Faktor Terapeutik merupakan peningkatana secara klinik atau penurunan prilaku yang tidak diinginkan bersamaan dengan peningkatan perilaku yang sesuai
Dalam hal ini faktor terapeutik merupakan sebuah elemen bermain yang dapat menyokong ke arah hasil akhir yang bersifat positif.
Bimbingan pengembangan perilaku adaptif siswa tungrahita dengan memanfaatkan permainan terapeutik dalam pembelajaran, khususnya dalam bimbingan pribadi sosial dapat terfokus pada kegiatan gerak motorik tubuh. Hal tersebut berdasar atas asumsi bahwa pertumbuhan gerak anak tunagrahita sangat memerlukan pengembangan gerak terhadap :
- Fungsi persepsi sensory motor
- Fungsi intelektual
- Fungsi emosi fisiologis
- Fungsi sosial
Oleh karena anak tunagrahita membutuhkan perkembangan, maka permainan yang dianggap paling cocok, yaitu permainan yang mengandungunsur-unsur motivasi gerak, daya tarik lingkungan, penggunaanuang, penggunaan waktu dan pengaruh emosi serta daya nalar secara alamiah sesuai dengan teori.
Kesimpulannya, ada enam jenis permainan yang sangat cocok dipergunakan bagi siswa berkebutuhan khusus dalam upaya pemberian bimbingan perilaku adaptif yaitu :
- Permainan yang memberikan kesempatan kepada anak untuk menjelajahi lingkungannya
- Permainan yang menggunakan seluruh energi anak
- Permainan yang berkaitan dengan keterampilan baru
- Permainan yang meningkatkan kemampuan bersosialisasi
- Permainan berimajinasi untuk mengembangkan daya berpikir dan berbahasa
- Permainan memecahkan masalah misalnya bermain puzzle
Tujuan umum bimbingan perkembangan perilaku adaptif siswa tunagrahita di sekolah tingkat dasar adalah :
- Mewujudkan pribadi yang mandiri serta bertanggungjawab sesuai dengan kekurangan yang ada pada dirinya.
- Mengenal perlunya kerjasama
- Melatih kemampuan fungsional agar mampu bertanggungjawab secara pribadi dan sosial
- Mengembangkan kemampuan untuk menyesuaikan diri dan mengembangkan sikap pribadi secara wajar.