Contoh Abstrak untuk Makalah dan Skripsi

On August 20, 2011, in Catatan Harian, by unsilster

Penelitian tindakan kelas ini dilatarbelakangi kurang optimalnya penggunaan metode latihan matematika di kelas III Sekolah Dasar Negeri Unsilster Kecamatan Unsilster Kabupaten Tasikmalaya, khususnya dalam indikator operasi pengurangan bilangan cacah, terbukti dengan perolehan hasil evaluasi sebelum dilakukan penelitian hanya mencapai rata-rata 4,36 (43,6%).

Bertolak dari uraian di atas yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah mengefektifkan penggunaan metode latihan sebagai upaya peningkatan kemampuan siswa dalam konsep operasi pengurangan bilangan cacah.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas dengan model Elliot. yang terdiri dari tiga siklus, masing-masing siklus terdiri dari empat tahapan kegiatan yaitu ; 1) perencanaan, 2) pelaksanaan, 3) observasi, 4) refleksi dan rekomendasi.

Landasan teoritik dari penelitian ini adalah ; 1) pembelajaran matematika di SD, 2) konsep operasi pengurangan bilangan cacah pada pembelajaran matematika, 3) metode latihan sebagai metode pembelajaran matematika di SD, 4) penilaian pelaksanaan pembelajaran operasi pengurangan bilangan cacah dengan menggunakan metode latihan.

Instrumen penelitian yang digunakan adalah tes awal untuk mengetahui kemampuan siswa sebelum dilaksanakan penelitian, lembar observasi untuk mengamati, 1) hasil rancangan rencana pembelajaran, 2) kemampuan guru dalam proses pembelajaran, 3) aktivitas siswa dalam kegiatan belajar, serta tes akhir untuk mengetahui hasil belajar siswa dalam operasi pengurangan bilangan cacah dengan menggunakan metode latihan.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan metode latihan ternyata dapat membantu guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam operasi pengurangan bilangan cacah yang ditandai dengan perolehan nilai rata-rata post tes pada siklus III yaitu 8,36 (83,6 %) ini berarti telah melebihi target pencapaian kompetensi suatu indikator yang ditetapkan sekolah yaitu 75 %.

Karena itu penggunaan metode latihan dalam pembelajaran operasi pengurangan bilangan cacah di Kelas III SD Negeri Pamoyanan I Kecamatan Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya merupakan salah satu alternatif yang dapat dipilih dan digunakan oleh guru Sekolah Dasar dalam upaya peningkatan kemampuan siswa dalam operasi pengurangan bilangan cacah.

Tagged with:  

Perilaku adaptif adalah keefektifan atau tingkat kemampuan seseorang dalam memenuhi norma kebebasan pribadi yang sesuai dengan usia dan kelompok budayanya. Perilaku adaptif merupakan kematangan diri dan sosial sesuai dengan usia dan budaya kelompoknya

Para ahli mendeskripsikan sebagai berikut :
Prilaku adaptif berfokus pada perilaku sehari-hari, tuntutan lingkungan yang bersifat kongkrit, intelegensi berfokus pada proses terjadinya dan tuntutan akademik

Asesmen perilaku adaptif melibatkan perilaku umum, khusus dan sehari-hari sedangkan intelegensi skala pengukur

Problem yang terjadi pada perilaku adaptif berakibat / berkaitan erat dengan terjadinya defisit intelegensi

Perjuangan untuk bertahan hidup merupakan landasan pokok bagi anak dalam lingkungan kehidupannya dan merupakan kebutuhan mereka untuk memelihara perjuangan diri sehingga mempunyai pengaruh yang kuat dalam mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan perilaku secara fisik dan membentuk perkembangan psikologis dirinya.

Makna bermain dalam proses bimbingan dan pembelajaran merupakan fungsi dari ego yang mencoba memadukan tubuh dan proses sosial dalam diri seseorang.

Bermain secara umum diartikan sebagai antithesis atau lawan yang tepat dari kerja, karena sifatnya menyenangkan, bebas dari paksaan, perasaan hati atau tidak ada tekanan dan bebas dari sifat yang tidak masuk akal.

Perilaku anak saat melakukan kegiatan bermain pada umumnya tidak mengharapkan hadiah atau ganjaran dari luar dirinya, mereka akan terus bermain tanpa menghiraukan orang lain yang ada sekitarnya. Hal ini disebabkan secara prinsip telah memberikan rangsangan dan mendominasi kegiatan seseorang terhadap objek mainanya.

Dalam kegiatan bermain yang dianggap penting bagi seseorang mempertahankan suatu objek, bukan mendapatkan informasi baru tentang objek. Jadi motivasi dan objek secara nyata dapat menjadikan permainan berubah sesuai dengan situasi anak. Bermain tidak bersifat instrumen atau tidak mempunyai arah tertentu sewaktu dilakukan oleh sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain, tidak mempunyai tujuan tertentu, serta tidak ada orientasi yang harus dilakukan. Komponen-komponen tersebut secara tetap ada pada perilaku seorang anak yang sedang tekun melakukan permainan yang mempunyai karakteristik khusus aturan tertentu.

Fungsi bermain serta implikasi dalam permainan yang bersifat terrapeutik sangat erat hubungannya dengan faktor-faktor :

Faktor Biological

  • Bermain merupakan wacana bagi seorang anak untuk mempelajari keterampilan-keterampilan dasar
  • Seorang anak melalui bermain dapat menyalurkan seluruh energi serta mendapatkan relaksasi
  • Bermain memberikan kemungkinan terhadap anak untuk melakukan stimulasi secara kinestesis

Faktor Intra Personal

  • Bermain dapat mempengaruhi gairah diri
  • Bermain dapat memungkinkan seorang anak memperoleh kemampuan untuk menguasai situasi tertentu
  • Bermain menjadi diri seorang anak untuk mampu mengatasi konflik-konflik dirinya

Faktor Inter Personal

  • Bermain merupakan salah satu wahana yang paling penting bagi seorang anak untuk menemukan jati dirinya yang ingin lepas dari pengasuhnya
  • Bermain membantu seorang anak untuk lebih banyak mempelajari keterampilan-keterampilan sosial

Faktor SocioCultural

  • Fungsi bermain sebagai media belajar anak dalam mempelajari peranan budaya bagi kepentingan diri mereka maupun orang lain
  • Permainan yang dilakukan anak berkaitan dengan budaya dan seringkali memiliki sejarah tertentu yang bersifat khusus serta banyak mengandung nilai-nilai budaya masyarakat.

Jadi faktor terrapeutik dalam permainan berisikan sejumlah elemen-elemen tertentu yang berbeda-beda untuk setiap kegiatannya serta ditentukan oleh pengaruh-pengaruh khusus yang ada pada anak.

Faktor Terapeutik merupakan peningkatana secara klinik atau penurunan prilaku yang tidak diinginkan bersamaan dengan peningkatan perilaku yang sesuai

Dalam hal ini faktor terapeutik merupakan sebuah elemen bermain yang dapat menyokong ke arah hasil akhir yang bersifat positif.

Bimbingan pengembangan perilaku adaptif siswa tungrahita dengan memanfaatkan permainan terapeutik dalam pembelajaran, khususnya dalam bimbingan pribadi sosial dapat terfokus pada kegiatan gerak motorik tubuh. Hal tersebut berdasar atas asumsi bahwa pertumbuhan gerak anak tunagrahita sangat memerlukan pengembangan gerak terhadap :

  • Fungsi persepsi sensory motor
  • Fungsi intelektual
  • Fungsi emosi fisiologis
  • Fungsi sosial

Oleh karena anak tunagrahita membutuhkan perkembangan, maka permainan yang dianggap paling cocok, yaitu permainan yang mengandungunsur-unsur motivasi gerak, daya tarik lingkungan, penggunaanuang, penggunaan waktu dan pengaruh emosi serta daya nalar secara alamiah sesuai dengan teori.

Kesimpulannya, ada enam jenis permainan yang sangat cocok dipergunakan bagi siswa berkebutuhan khusus dalam upaya pemberian bimbingan perilaku adaptif yaitu :

  • Permainan yang memberikan kesempatan kepada anak untuk menjelajahi lingkungannya
  • Permainan yang menggunakan seluruh energi anak
  • Permainan yang berkaitan dengan keterampilan baru
  • Permainan yang meningkatkan kemampuan bersosialisasi
  • Permainan berimajinasi untuk mengembangkan daya berpikir dan berbahasa
  • Permainan memecahkan masalah misalnya bermain puzzle

Tujuan umum bimbingan perkembangan perilaku adaptif siswa tunagrahita di sekolah tingkat dasar adalah :

  • Mewujudkan pribadi yang mandiri serta bertanggungjawab sesuai dengan kekurangan yang ada pada dirinya.
  • Mengenal perlunya kerjasama
  • Melatih kemampuan fungsional agar mampu bertanggungjawab secara pribadi dan sosial
  • Mengembangkan kemampuan untuk menyesuaikan diri dan mengembangkan sikap pribadi secara wajar.
Tagged with:  

Alat Bina Gerak dan Alat Bina Diri

On June 29, 2011, in Catatan Harian, by unsilster

Alat Bina Diri

  • Alat untuk merias diri terdiri dari meja rias, sisir, hair drayer, pencuci muka, bedak, parfum, aksesoris rambut, minyak rambut, lipstik, bandu
  • Alat untuk makan dan minum terdiri dari sendok, garpu, piring, gelas, waslap
  • Alat rumah tangga misalnya kompor, katel, panci, majic com

Alat Bina Gerak

  • Rolling untuk melatih keberanian, ketangkasan, keseimbangan, jongkok, berdiri
  • Bola besar untuk keseimbangan kiridan kanan, menguatkan persepsi
  • Walking parallel bars untuk latihan berjalan
  • Straight untuk latihan penguatan otot kaki
  • Pulley Weight untuk melatih kekuatan otot
  • Stall Bars (Wall Bars) untuk melatih kekuatan otot, menggenggam keberanian naik turun, jongkok berdiri, koordinasi gerak tangan dan kaki saat memanjat
  • Stand in table untuk melatih posisi berdiri, ketahanan pada posisi berdiri, merangsang proprioceptor, melatih persiapan berjalan
  • Walker untuk latihan berjalan
  • Kruk untuk alat bantu berjalan
  • Cervical Collar untuk meluruskan leher
  • Back Splint untuk meluruskan lutut yang melengking ke belakang
  • Drop Foot Splint untuk meluruskan kaki yang jinjit
  • Inclinemat untuk latihan kontrol leher
  • Tread mill untuk latihan berlari di tempat
  • Cock up Splint digunakan untuk meluruskan tangan yang kaku / mengepal
  • Kursi roda untuk alat bantu berjalan
  • Crawer alat ini dipakai untuk latihan merangkap.
Tagged with:  

Rehabilitasi, Terapi, Okupasi, Ortopedi

On June 24, 2011, in Catatan Harian, by unsilster

Rehabilitasi merupakan upaya medik, sosial dan keterampilan yang diberikan kepada peserta didik agar mampu mengikuti pendidikan.

Tujuan rehabilitasi adalah membantu penyandang cacat mencapai kemandirian optimal secara fisik, mental, sosial, vocasional, dan ekonomi sesuai dengan kemampuannya

Fungsi rehabilitasi adalah pencegahan, penyembuhan, pemulihan dan pemeliharaan
Terapi berarti usaha untuk memperbaiki atau menyembuhkan suatu kelainan yang telah diketahui.

Jenis-jenis terapi adalah :
Terapi bermain adalah kegiatan sebagai penyaluran emosi, misalnya rasa senang, setuju dan kesal. Terapi bermain meliputi permainan gerak/ fungsi, permainan, distuktif, konstruktif, peranan/ ilusi, reseptif dan prestasi

Terapi fisik adalah seni dan ilmu pengobatan dengan menggunakan tenaga alam, yang dimaksud tenaga alamyaitu terapi latihan, massage, panas, dingin, air, sinar dan listrik. Jenis latihan yang ada hubungannya dengan terapi fisik seperti latihan kekuatan otot, gerakan persendian, posisi kepala dan tubuh, posisi anggota tubuh, posisi duduk, merangkak, berdiri, meloncat-loncat di tempat, berjalan dan penggunaan alat gerak

Terapi psikis ialah suatu usaha penyumbuhan kelainan jiwa atau emosi yang dapat disalurkan melalui berbagai aktivitas

Terapi Bicara
Program latihan terapi bicara berhubungan dengan bina gerak menekankan pada hal-hal berikut : ketelaksaan, latihan bernapas, gerakan leher, rahang dan bibir, gerakan pita suara, gerakan mengisap, latihan mengunyah makanan yang keras dan kenyal, gerakan menelan, latihan meniup, cara memberi makanan dan komunikasi.

Terapi musik adalah usaha penyembuhan, baik fisiologis maupun psikologis, melalui aktivitas permainan musik

Okupasi adalah profesi kesehatan yang merupakan bagian dari rehabilitasi medik, bertujuan membantu individu dengan kelainan dan atau gangguan fisik, mental maupun sosial, dengan penekanan pada aspek sensomotorik dan proses neurologis. Hal itu dicapai dengan cara memanipulasi, memfasilitasi dan menginhibisi lingkungan, sehingga individu mampu mencapai peningkatan perbaikan, dan pemeliharaan kualitas hidupnya.

Dalam memberikan pelayanan kepada individu, terapi okupasi memperhatikan aset (kemampuan) dan limitasi (keterbatasan) yang dimiliki anak, dengan memberikan manajemen aktivitas yang purposeful (bertujuan) dan meaningful (bermakna). Dengan demikian diharapkan anak dapat mencapai kemandirian dalam aktivitas produktivitas (sekolah/ akademik), kemampuan perawatan diri (self care) dan kemampuan penggunaan waktu luang (leisure) serta bermain sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

Anak-anak yang memerlukan bantuan terapi seperti diuraikan diatas antara lain :

  • Gangguan Perkembangan (Cerebral Palsy/ CP)
  • Pervasive Development Disorder (PDD)
  • Autism Spectrum Disorder (ASD)
  • Attention Deficit/ Hyperactivity Disorder (ADD/ADHD)
  • Anak dengan gangguan perilaku
  • Keterlambatan Wicara
  • Down Syndrome
  • Asperger’s Syndrome
  • Kesulitan Belajar
  • Dan keterlambatan perkembangan lainnya

Okupasi terapi akan memberikan pelayanan individual yang meliputi :
Penilaian (Assesment)

Intervensi Individual maupun kelompok
Agar anak mampu mencapai kemandirian dalam tugas kehidupan, seorang terapis okupasi akan mengamati dan mengkaji area-area dan komponen yang mencakup :

  • Biomekanik
  • Sensori Motorik
  • Perseptual Kognitif
  • Keterampilan Interpersonal

Bedah ortopedi atau orthopaedi (juga dieja orthopedi) ialah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari tentang cedera akut, kronis, dan trauma serta gangguan lain sistem muskuloskeletal. Dokter bedah ortopedi menghadapi sebagian besar penyakit muskuloskeletal termasuk artritis, trauma dan kongenital menggunakan peralatan bedah dan non bedah.

Beberapa contoh subspecialisasi ortopedi adalah :

  • Bedah tangan (juga dilakukan oleh dokter bedah plastik)
  • Bedah bahu dan siku
  • Rekonstruksi sendi total (artoplasti)
  • Ortopedi anak
  • Bedah kaki dan pergelangan kaki (juga dilakukan oleh podiatri)
  • Bedah tulang belakang (juga dilakukan oleh dokter bedah saraf)
  • Onkologi muskuloskeletal
  • Bedah kedokteran olahraga
  • Trauma ortopedi
Tagged with:  

Indikator Mutu Pendidikan

On May 28, 2011, in Catatan Harian, by unsilster

Proses pendidikan yang bermutu tercakup berbagai input seperti bahan ajar (kognitif, afektif atau psikomotorik) metodologi (bervariasi sesuai kemampuan guru), administrasi, sarana dan prasarana, sumber daya lainnya, serta penciptaan suasana yang kondusif. Manajemen sekolah menyinkronkan berbagai input tersebut atau menyinergikan semua komponen dalam interaksi (proses) belajar mengajar.

Mutu dalam arti hasil output harus dirumuskan terlebih dahulu oleh sekolah dan target yang akan dicapai untuk setiap tahun kurun waktu tertentu harus jelas. Selain itu, berbagai input dan proses harus selalu mengacu pada mutu hasil output yang ingin dicapai.
Instrumental input, yaitu alat berinteraksi dengan raw input (siswa) seperti guru, harus memiliki komitmen yang tinggi dan total serta kesadaran untuk berubah dan mau berubah untuk maju, menguasai ajar dan metode mengajar.

Biaya pendidikan dengan sumber dana (budgeting) dikontrol dengan pembukuan yang jelas. Kurikulum materi ajar harus sesuai dengan tujuan pembelajaran, realistis dan sesuai dengan fenomena kehidupan yang sedang dihadapi.
Raw output dan lingkungan yaitu siswa itu sendiri serta dukungan orang tua, dalam hal ini memiliki kepeduliaan terhadap penyelenggaraan pendidikan.

  • Performance, yaitu berkaitan dengan aspek fungsional dari produk dan merupakan karakteristik utama yang dipertimbangkan pelanggan.
  • Features, merupakan aspek kedua dari performance yang menambah fungsi dasar serta berkaitan dengan pilihan-pilihan dan pengembangannya.
  • Reliability, yaitu berkaitan dengan kemungkinan suatu produk yang berfungsi secara berhasil dalam periode waktu tertentu.
  • Conformance yaitu berkaitan dengan tingkat kesesuaian produk terhadap spesifikasi yang telah ditetapkan
  • Durability, yaitu berkaitan dengan berapa lama produk tersebut dapat terus digunakan
  • Servieability, merupakan karakteristik yang berkaitan dengan kecepatan/ kesopanan
  • Aesthetics, merupakan karakteristik mengenaid keindahan yang bersifat subjektif
  • Perceived Quality yaitu karakteristik yang berkaitan dengan reputasi (brand name, image)

 

Tagged with: