UnsilSter Blog

Info Handphone dan Makalah Terbaru

Contoh Resensi Novel Atheis

Stasiun Bandung sudah samar-samar diselimuti oleh senja ketika kereta api dari Cibatu masuk. Matahari sedang mengundurkan diri, pelan-pelan dan hati-hati seperti pencuri yang hendak meninggalkan kamar untuk menghilang ke dalam gelap.

Kota Bandung tidak seperti tiga tahun yang lalu. Pada senja hari yang indah seperti itu, di zaman yang lalu kota itu seolah-olah mulai berdandan, lampu-lampu listrik di jalan-jalan, di toko-toko dan di rumah-rumah di pasang, seakan-akan manusia bersedia untuk mulai berjuang membantu Ormudz, dewa terang dalam perjuangannya yang abadi melawan Ahriman, dewa gelap. Di mana-mana bola-bola lampu sudah menyala, riang terang seperti jambu-jambu api, yang makin lama makin terang untuk berbaur pada akhirnya menjadi suatu lautan cahaya yang terang benderang. Orang-orang, mobil-mobil dan kendaraan-kendaraan lain bergerak di atas dasar segara. Kebaya merah, rok kuning, setelan gabardin, beriring-iring, berpapasan, susul menyusul diatas trotoir, depan toko-toko yang bermandi cahaya. Packkaard, Ford, Erskine, Willys mengkilap-kilap di atas aspal, menyiku Fongers, Raleigh, Humber dan mobil-mobil cap “kuda” ke pinggir. Benar kata orang bahwa kota Bandung yang mendapat julukan “Paris di pulau Jawa” mulai hidup dari jam 6 sore.

Tapi lain dulu lain sekarang.

Tidak demikian halnya, ketika kereta api masuk stasiun sore itu, Ahriman agaknya sudah bisa melumpuhkan semangat Ormudz. Tak berani lagi Ormudz berpesta di kota Bandung. Bandung sekarang seolah-olah sedang berkabung. Kini tidak ada lagi lampu-lampu yang terang benderang itu. Tak ada lagi toko-toko yang bermandi cahaya. Tak ada lagi kendaraan-kendaraan yang bersimpang siur. Beberapa lampu yang jauh-jauh jaraknya terpencil yang satu dari yang lain, seperti ragu-ragu agaknya memberikan cahaya, laksana putri Timur yang ragu-ragu pula menyiarkan cahaya kecantikannya karena wajahnya ditutup dengan tudung telingkup. Lampu-lampu itu pun diselubungi dari timah sari yang dicat hitam, sehingga tak ada cahaya yang ke pinggir atau ke atas, melainkan hanya ke bawah saja, ke atas jalan aspal. Dan di sana cahaya bulat-bulat seperti bulan purnama yang sedang pudar cahayanya.

Truck-truck yang penuh dengan serdadu Jepang mundar-mandir terbang dengan bergemuruh di atas jalan. Lampunya bergerak-gerak di dalam gelap seperti bola-bola biru menari-nari, sepasang-pasang.

Selain truck-truck dan mobil-mobil Jepang yang tidak begitu banyak itu ada juga beberapa delman yang rupanya lekas-lekas hendak pulang seperti burung-burung di kala senja buru-buru mencari sarangnya. Maklumlah, akhir-akhir ini seringkali ada bahaya udara. Kecuali kendaraan-kendaraan tersebut, jalan-jalan itu boleh dibilang sepi sama sekali.

Persis pukul 6.33 (menurut jam Jepang sudah jam 8.06) kereta api masuk stasiun. Jadi sudah mulai gelap.

Hasan lekas-lekas turun. Tas pakaiannya dijinjing dan mantelnya diselampaikan di atas pundaknya. Seperti semua penumpang yang lain iapun bergegas-gegas meninggalkan gedung stasiun. Diatas tangga ia berdiri sebentar, melihat ke kiri ke kanan mencari delman atau becak. Tapi satu dua delman yang ada di halanan sudah diambil orang lain. Karena itu, Hasan terpaksa jalan kaki dengan harapan mudah-mudahan saja di tengah jalan akan bertemu dengan delman atau becak yang kosong.

Sebetulnya ia merasa terlalu lemah dan lemas untuk menempuh jalan ke rumahnya di Tegallega itu. (Sejak ia bercerai dengan Kartini, ia tidak lagi ke rumah di Lengkong Besar, tetapi pindah ke Tegallega). Tersesok-seok ia berjalan. Dan tidak ada kulli lagi. Pakaian dalam tasnya serasa sudah menjadi batu semuanya. Tangannya yang menjinjing itu lengket, karena keringat. Lekat seperti memegang dodol. Karena itu tasnya itu berpindah-pindah saja dari tangan kiri ke tangan kanan, dari tangan kanan ke tangan kiri. Dan bersama itu bahunya turun naik seperti neraca.

Ia terseok-seok terus, berkali-kali dilalui oleh orang lain yang lebih cepat jalannya. Hari semakin gelap.

Persis di simpangan jalan Suniaraja terdengar tiba-tiba sirene berbunyi. Ngeooong, Ngeooong…… Ngeooong.

Kusyu keiho ! kusyu keiho ! teriak orang-orang yang pada lari mencari lubang perlindungan. Kusyu keiho ! Kusyu keiho ! sambung seorang laki-laki yang berteriak-teriak dengan menggunakan sebuah corong pengeras suara. Ia pakai sepeda lari ke sana ke mari dengan corong depan mulutnya, seperti seeokor burung ganjil layaknya yang besar paruhnya.

Orang-orang pada ribut. Yang satu lari kesini, yang satu lagi ke ke sana. Seperti ayam-ayam takut elang. Tiap-tiap kaki lari cepat. Tiap-tiap hati berdebar-debar. Tiap-tiap mata mencari perlindungan yang paling dekat.

Hasan bingung. Ia bergegas ke sebuah lubang perlindungan yang tidak jauh letaknya dari sana. Tapi dilihatnya sudah terlalu penuh. Tidah jadi masuk. Mencari perlindungan lain. Mantelnya menggelosor dari bahunya, jatuh ke bawah. Dipungutnya.

Ayo Bung ! Lekas berlindung ! teriak seorang keibodan dengan picinya dari anyaman bambu dan memegang senapan dari kayu.

Dengan menyeret-nyeret mantelnya yang menyapu jalan, Hasan bergegas lagi mencari perindungan lain. Lari ia tidak berani. Takut akan penyakit paru-parunya. Napasnya mengkrak-krik.

Sirene mengaung-ngaung terus. Dan lampu-lampu sudah padam semua. Mati serantak seolah-olah tertiup semuanya oleh napas sirene yang berputar-putar di udara seperti kincir. Radio umum sudah bungkam juga, seperti suara gaang dalam tanah yang tiba-tiba berhenti karena mendengar langkah orang. Dan mobil-mobil serta kendaraan-kendaraan lain sudah berlindung di tepi-tepi jalan yang sembunyi tidak terlihat dari udara. Jalan-jalan mendadak sepi. Hitam. Bungkap. Mati.

Ya, mati semua-muanya. Gudang-gudangan mati, toko-tokonya mati, lampu-lampunya, radio-radionya, mobil-mobilnya mati semua. Akan tetapi tidak demikian halnya dengan orang-orangnya. Orang-orangnya tidak mati. Baru hanya takut mati.

Hasan sudah berada dalam perlindungan lain.

- Masuk terus ! perintah si Amin seorang keibodan yang bekerja sehari-hari menjadi kuli binatu. Hasan didorong-dorong dari belakang sehingga tersonggok-songgok masuk makin dalam menyusuk ke dalam lubang yang gelap itu.

- Duduk semua : (perintah si Amin pula) Hai buang itu rokok semua (cara membentak ala Jepang terhambur dari mulut si Amin).
Mas Karto yang lupa aturan kusyu keiho lekas membuang rokok kreteknya.
Bok Karto mengomel :
- Kok, wong tua tidak tahu aturan, kaya bocah cilik saja. Daripada minta-minta kepada Tuhan supaya selamat semuanya, ini kok mengepool saja. Hus !

Kemudian bibir orang perempuan itu kernyat-kernyut membaca surat fatehah dan kulhu dengan maksud supaya jangan ada bom jatuh ke sana.

Hasan duduk di samping Mas Karto. Hasan pun mengucap syukur karena mas Karto tidak merokok. Asap rokok tidak baik bagi orang berpenyakit TBC.

Sebentar kemudian sunyi-senyaplah dalam perlindungan itu, seperti dalam kuburan. Sirene sudah tidak berbunyi lagi, seperti mayat dalam kuburan. Hanya sekali-kali jangkrik mengekerik di bawah bangku perlindungan. Krik-krik-krik. Sekali-sekali terdengar juga suara bibir Bok Karto mendesis-desis membaca kulhu dan fatehah.

Masing-masing orang dengan pikirannya sendiri-sendiri. Tapi tiap hati berdenyut seirama : takut mati !. berdenyut seirama pula : mohon selamat kepada Tuhan. Dan tiap muka tak bersinar. Apa bedanya keadaan mereka itu dengan tikus-tikus yang takut kucing atau anak-anak ayam yang takut elang ? Mungkin bedanya Cuma, karena ayam atau kucing tidak berdenyut dalam hatinya minta selamat kepada Tuhan. Tapi entahlah, itu tidak bisa kita kontrol, karena kita tidak mengerti bahasa kucing.

Hasan merenung-renung. Ia pun takut mati. Perasaan demikian itu sudah bukan perasaan yang akhir-akhir ini makin sering mengganggu dia. Mungkin karena ia merasa, bahwa penyakit paru-parunya sudah semakin berat lagi. Dan dalam ketakutan itu segala dongeng-dongeng dahulu ketika kecil tentang mereka, malaikat, jin dan lain-lain itu hidup kembali dalam khayalnya. Makin hidup khayalnya makin takut ia. Dan dalam ketakutan ia merasa bahwa ia hanya sesuatu makhluk yang kecil sekali yang tidak berdaya apa-apa. Dengan seluruh jiwanya ia bersujudlah ia kembali kepada Tuhan, memohon-mohon kepada-Nya, supaya ia lekas baik dari sakitnya dan sekarang di dalam lubang itu supaya ia selamat jangan kena bom. makin keras ia memohon kepada Tuhan, main tenteramlah ia merasa dalam hatinya. Lupa ia akan segala ucapan dan ajaran Rusli tentang tidak adanya Tuhan. bahkan ia sekarang merasa lebih dekat lagi kepada Tuhan.

Related Posts:

Category: Catatan Harian
  • maulida smashblazt says:

    identitasnya mana?

    October 6, 2011 at 7:06 pm

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*