Seni Tradisional Jawa Barat

TEMBANG BELUK
Tembang beluk termasuk seni Sunda buhun pada zaman dahulu pertama menyebarkan di Kadupandak Cianjur, di pagelaran ini ada 3 macam kesenian yaitu :
Seni Sastra
Seni Musik dan
Seni Ibing

Pagelaran ini termasuk kesenian dipirig dengan suara terbang, semuanya ada enam yaitu :

Terbang pertama disebut anak
Terbang kedua disebut kempyang
Terbang ketiga disebut penerapas
Terbang keempat disebut panojo
Terbang kelima disebut gendut
Dan terbang keenam yang terbesar disebut indung

Fungsi terbang :

  • Indung disebut goongkan
  • Anak disebut komando
  • Kempyang disebut pengatur wirahma
  • Panojo disebut menempas
  • Penempas disebut menempas

Kesenian ini selalu digunakan sewaktu-waktu di Mesjid tembang beluk memakai irama mars. Irama tembang beluk memakai irama cepat setelah itu mereka membaca berjanji orang yang mendengarkan sangat tertib di waktu membaca solawat Nabi.

Terbang selalu menyanyikan lagu-lagu yang bertema Islam dan berjoged ala lagu-lagu yang bertema Islam antara lain :
a.Fataham Lahu
b.Alaihim
c.Robbi Salam
d.Ya Maulia dan
e.Gumu Topan

Di lagu-lagu hiburan biasanya selalu diibingkan dilihat disebelah iringan
Maka setelah shalah Isya biasanya kesenian itu selalu dimainkan oleh 4 orang laki-laki kalau sekarang oleh 4 orang wanita juga boleh, selain itu tembang beluk juga dimainkan dalam acara :
Selametan
Khitanan dan
Pernikahan

WAYANG GOLEK
Wayang Golek merupakan salah satu kesenian Sunda/populer pesta yang banyak digemari orang oleh masyarakat kalau ada yang menangap wayang golek. Sebelumnya sudaht tenar dan menceritakan tentang adanya wayang golek yang mau ditonton termasuk para sindennya dan seni sastra ceritanya pewayangan kaya akan norma yang mengandung sifat jujur, buruk hati, dan lucu menjadi menarik pas pertama cerita wayang golek ditontonkan. Masyarakat banyak yang menyukai, hingga penonton berteriak-teriak untuk mendukung pagelaran ini sampai-sampai kehabisan suara dan tertawa tawa melihat Semar, Cepot, Dawala dan Gareng yang sangat lucu-lucu. Didalam umumnya orang yang memainkan wayang-wayang tersebut tidak sembarang orang menjadi dalang orang yang menjadi dalang harus memiliki imu pawayangan yang tinggi.

Norma yang menjadi bahan ceritaan dalam wayang golek sumbernya dari buku Ramayana dan Mahabrata, buku ini sudah terkenal oleh mahasiswa kuliahan se-dunia dan sudah diterjemahkan dengan macam-macam bahasa termasuk bahasa Sunda.

Buku Ramayana dan Mahabrata diciptakan oleh Walmiki panjangnya 24.000 berisi RAA Wiranagara menjadi 7 baris diceritakan menjadi wawacan yang berjudul batara rama wayang golek berasal dari agama Hindu, semakin lama menyabar menjadi bahan tontonan dan digelarkan oleh dalang.

REOG DAN CALUNG
Umumnya fungsi kesenian dalam masa lalu yaitu raket patalena dan upacara adat dan masa kini sudah berubah menjadi pintonan untuk hiburan, perubahanya bukan dengan fungsinya saja tetapi dalam prak-prakan yang digelarakan oleh kesenian reog dan calung kalau dilihat dari mangsa pagelaran termasuk zaman dahulu.

Biasanya pertunjukan dalam ogel atau pintonan yang biasanya digelarkan oleh seorang laki-laki empat orang semuanya dog dog langsung sekaligus melawak dopok yang besar disebut bang barang dari sanah namanya termasuk dog dog yang disebut jong jorong lalu panampas yang paling kecil yang disebut ting ting.

Dalam ogel terus bermerak menjadi reog masih dipertunjukkan oleh 4 orang walau masa kini tidak selamanya oleh laki-laki walaupun suka ada reog yang dimainkannya oleh perempuan dalam waditrana sekarang ditambah alat musiknya yaitu saron, rebab, kendang, kulanter dan goong malah ada yang lebih dari itu karena penambahnya banyak

Dari ogel terus mekar menjadi reog masih tetap dipentaskan oleh 4 orang laki-laki kalau sekarang tidak seharusnya laki-laki sebab selalu ada reog pemainnya wanita disebalah sana juga ada ditambah umpamnya ku calon rebab gendang.

Calung rentet suka digelarkan didalam upacara adat. Waditranya dibangun oleh calung indung dan calung rincik keduanya mempunyai nada laras pentatonis dalam pementasan calung rentet tidak suka memakai bobodoran fungsinya untuk mengiringi lalaguan, sekarang reog maupun calung sering digelarkan dipanggung

Calung jingjring dipakai oleh kata orang sunda kira-kira stahun 60-an, pertama dipopulerkan oleh mahasiwa di mekarkan seterusnya calung jing jring di wuwuhan oleh unsur seni lainnya seperti tangter dengan gerakan dan humor sekarang berubah menjadi tontonan seni

Sekarang calung maupun reog sering digelar di panggung tetapi di televisi telah banyak orang yang menyukainya maupun lalaguan Sunda banyak orang yang dikasatkan.Tontonan reog maupun calung sebenarnya tidak mengukur menjadi pembebasan mana

Related Posts:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*